KLIK24.NEWS Kotamobagu – Tepat satu tahun duet kepemimpinan Wali Kota Weny Gaib dan Wakil Wali Kota Rendy Mangkat menakhodai Pemerintah Kota Kotamobagu. Periode awal pemerintahan ini diwarnai tantangan fiskal yang tidak ringan, memaksa pemerintah daerah melakukan penyesuaian anggaran tanpa mengorbankan pelayanan publik.
Satu tahun perjalanan tersebut menjadi momentum evaluasi terhadap arah kebijakan yang ditempuh di tengah tuntutan efisiensi belanja daerah. Pemerintah dihadapkan pada dilema klasik: menjaga stabilitas keuangan sekaligus memastikan program prioritas tetap berjalan.
Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekda Kota Kotamobagu, Sahaya Mokoginta, menjelaskan bahwa strategi yang ditempuh difokuskan pada penajaman skala prioritas serta rasionalisasi belanja yang dinilai kurang produktif.
“Setiap program diseleksi secara ketat untuk memastikan efektivitas dan dampaknya benar-benar dirasakan masyarakat. Perencanaan kini lebih berbasis pada kebutuhan riil warga,” ujarnya.
Menurut Sahaya, tantangan terbesar pemerintah saat ini adalah menjaga keberlanjutan program strategis di tengah keterbatasan fiskal. Sejumlah sektor tetap menjadi prioritas utama, mulai dari peningkatan kualitas pelayanan publik, pembangunan infrastruktur dasar, penguatan ekonomi kerakyatan dan UMKM, hingga pengendalian inflasi serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Ia menegaskan bahwa kebijakan efisiensi bukan berarti memangkas komitmen pelayanan. Sebaliknya, langkah tersebut diarahkan untuk memperbaiki tata kelola agar lebih transparan, akuntabel, dan tepat sasaran.
BACA JUGA : 70 Titik Koperasi Merah Putih Dibangun di Bolmong Raya, Kodim 1303 Siap Kawal dan Dampingi
“Setiap rupiah harus memberikan manfaat yang terukur. Efisiensi adalah soal kecermatan dalam mengelola anggaran, bukan mengurangi tanggung jawab kepada masyarakat,” tegasnya.
Di sisi lain, reformasi birokrasi terus diperkuat agar aparatur lebih adaptif dan solutif dalam merespons persoalan. Kolaborasi lintas sektor, termasuk bersama DPRD, Forkopimda, pelaku usaha, dan masyarakat, disebut menjadi elemen penting dalam menjaga stabilitas pembangunan daerah.
Memasuki tahun kedua, Pemerintah Kota Kotamobagu menyadari masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Namun optimisme tetap dijaga bahwa fondasi yang telah dibangun selama satu tahun pertama akan menjadi pijakan untuk melanjutkan pembangunan jangka menengah.
“Ini bukan akhir dari proses, melainkan awal untuk memperkuat arah pembangunan yang berkelanjutan,” pungkas Sahaya.***



.
.














