Manado  

Ramadhan diwarnai dengan mudik. Efraim Lengkong@Om evergreen (70) Wakil ketua KP Lansia GMIM Wilayah Malalayang Timur Manado

Sulut,Klik24.News- BULAN RAMADHAN, sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Quran maupun hadits, memiliki keistimewaan yang melekat pada bulan itu sendiri.
Senin (16/02/2026).

Bulan Ramadhan juga dapat disebut sebagai bulan kasih sayang (rahmat), bulan pengampunan (maghfirah), bulan penuh keberkahan (barakah), bulan kemenangan (falah), bulan pembelajaran (tarbiyah), dan bulan di mana setiap ibadah dilipatgandakan.

Di bulan Ramadhan, selalu diwarnai dengan mudik.
Kata mudik merupakan satu istilah dari kultur Melayu-Nusantara yang berasal dari kata “udik” yang bermakna kampung pedalaman.

Mengapa setiap orang yang melakukan perjalanan jauh setelah sekian lama tak kembali ke kampung halaman acap kali tersengat rindu untuk segera pulang?

Mengapa diksi tentang “pulang” atau “kembali” (raja’a) dengan berbagai derivasinya: _yarji’u, irji’î, râjiûn,_ dan seterusnya memiliki makna fundamental dalam tradisi Alquran?

Jawabnya: karena orang yang tinggal di rantau ingin pulang bagi mereka yang tahu asal-usul kampung nenek moyang mereka.

Di sisi lain, di kampung halaman yang nun jauh di pedalaman, kehidupan demikian eksotik dan mekar: rumah-rumah dan pagar halaman dicat ulang, kursi dan sofa baru dipajang, toples dipenuhi bermacam-macam kue kering berjejer di atas meja, anak-anak meledakkan meriam bambu, umbul-umbul aneka warna menghiasi masjid dan lapangan tempat shalat Idul Fitri, tak ketinggalan anyaman ketupat dari daun kelapa muda, dan daun pandan turut riuh di setiap rumah tangga.

Semua berporos pada satu tujuan: menyambut sang pemudik “pulang” setelah sekian lama di rantau.

Ada “simetris” kerinduan yang mengalir di sana, namun tak terucapkan. Semua berlangsung secara natural, polos, dan hidup, tanpa balutan “iklan,” jauh dari “pambrih” (pradah).

Mengapa diksi tentang “pulang” atau “kembali” (raja’a) dengan berbagai derivasinya: _yarji’u, irji’î, râjiûn,_ dan seterusnya memiliki makna fundamental dalam tradisi Alquran ?

Jawabnya: karena orang yang tinggal di rantau ingin pulang bagi mereka yang tahu asal-usul kampung nenek moyang mereka.

Ramadan, mudik, dan Idul Fitri bukanlah sebilah garis linear, tetapi matriks kerinduan primordial yang mengandaikan momen pengalaman sang-aku dalam “menyelami” diri.

Ramadan adalah momen permenungan, menyelam ke dalam diri guna menemukan diri sejati yang otentik.

Sejauh ini, kita sering berkeinginan melontarkan diri dan melihat “keluar,” lalu takluk dalam simulakrum: citra, prestise, status, mode, dan gaya hidup. Hal ini secara moral membuat manusia tercerabut dari “kebahagiaan asali” (paradiso), kesucian primordial (fitrah), dan tercampak dalam “kegelapan” (inferno).

Itu sebabnya, alegorisme Alquran mengandaikan manusia yang sukses bangkit dan meretas diri dari kepompong “aku-gelap” menuju “aku-cahaya” yang otentik, tertuang dalam titah-Nya: _min al-zhulumâti ila al-nûr.

Kerinduan manusia untuk selalu menyucikan ruhaninya melahirkan naluri kuat untuk kembali ke “Asal-Yang-Suci”.

Filsuf Muslim dan pentolan philosophia perennis, Seyyed Hossein Nasr, dalam Knowledge and Sacred (1992) mendaku, “kerinduan untuk selalu kembali ke “Asal-Yang-Suci” tidak semata dialami manusia, tetapi juga seluruh kosmik.”

“Naluri kosmik untuk kembali ke “Asal-Yang-Suci” menyebabkan terciptanya gerak siklis bagi seluruh realitas – laksana tawaf – dalam tradisi haji. Atom bertawaf pada sumbunya, bulan mengelilingi bumi, bumi mengitari matahari, matahari beredar mengitari galaksi, dan seterusnya.

“Kesadaran Eksistensi” yang dalam teologi diandaikan sebagai Tuhan. Ini pula makna esensial pesan etik Alquran: _Innâ Lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn_ — “Sungguh kita semua berasal dari Allah, dan hanya kepada Allah kita “kembali”.

Di titik ini, jejak telaga suci keruhanian Islam perihal “pulang” atau “kembali,” mengalir deras dalam jantung narasi kebudayaan Nusantara: _“mole”_ (Jawa), _“amminro”_ (Konjo), _”ammaliang”_ (Makassar), _”lisu”_ (Bugis), _“mulak”_ (Batak), dan seterusnya juga mengandaikan gerak siklis “pulang” ke Asal-Usul.

E.F. Schumacher (1990) menyebut pengandaian “gerak siklis kosmik” di atas sebagai “the hierarchy of existence” mulai dari Tuhan pada tingkat tertinggi dan tak terpermanai.

Dengan begitu, Tuhan sebagai “Asal-Yang-Suci” adalah “Titik Berangkat” dan “Titik Pulang” seluruh realitas.

Inilah akar doktrin “persaudaraan kosmik” manusia-alam yang melakukan pergerakan sunyi bersama “mudik” ke Asal Yang-Suci.

Keterpanggilan aku-otentik (spirit/ruh/fitrah) untuk selalu menyucikan dirinya dan kembali kepada Tuhannya menjadi sumbu seluruh pergerakan “Mudik ke Kampung Asal-Yang-Suci.”

Bukankah pulang adalah sebuah gerak kepastian yang mengandaikan seseorang menemukan dirinya tak jauh dari titik di mana ia berangkat ?

Pergerakan menemu-kenali kembali diri yang otentik (fithri) adalah mudik yang sejati. Di mana mudik menuntut kesigapan dan bekal, sebab mudik bukan hanya urusan orang-orang yang ingin pulang, tetapi juga mereka yang mau berangkat menuju asalnya yang suci.

Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan 2026. Marhaban ya Ramadan. Semoga diberi kekuatan untuk menjalankan ibadah dengan ikhlas dan khusyuk.

(Jhon A.Waluyan).

. .

Tinggalkan Balasan