KLIK24.NEWS Kotamobagu – Di balik seragam loreng dan baret hijau yang dikenakan dengan penuh kebanggaan, tersimpan cerita tentang kesetiaan, pengorbanan, dan pengabdian tanpa batas. Suasana haru dan khidmat menyelimuti Aula Totabuan Makodim 1303/Bolmong saat jajaran prajurit berdiri tegap mengikuti tradisi satuan pelepasan personel purna tugas dan pindah satuan, Senin (02/03/2026).
Komandan Kodim 1303/Bolmong, Letkol Inf Manashe Lomo, S.H., M.I.P., memimpin langsung jalannya acara yang menjadi momentum penghormatan bagi para prajurit atas dedikasi dan loyalitas selama berdinas di Kodim 1303/Bolaang Mongondow.
Dua prajurit terbaik resmi mengakhiri masa dinas aktifnya, yakni Kapten Inf Haris Hulinggi dan Serka Frangky Lahapo. Bagi keduanya, purna tugas bukan sekadar akhir dari rutinitas kedinasan, tetapi puncak perjalanan panjang sebagai prajurit TNI AD. Puluhan tahun pengabdian mereka menjadi saksi kesiapsiagaan, loyalitas, dan komitmen menjaga stabilitas wilayah serta kedekatan dengan masyarakat.
Sementara itu, sembilan prajurit lainnya bersiap melanjutkan pengabdian di satuan baru. Tiga personel akan bertugas di Yon Armed 19/Bogani, satu personel ke Korem 133/Nani Wartabone, satu personel ke Kodam I/Bukit Barisan, dua personel ke Kodam IV/Diponegoro, serta satu personel ke Kodam XVII/Cenderawasih. Perpindahan ini menjadi bagian dari dinamika organisasi dalam membangun kekuatan yang adaptif dan profesional.
Dalam sambutannya, Letkol Inf Manashe Lomo menegaskan bahwa setiap perpindahan bukanlah perpisahan dalam arti sesungguhnya, melainkan kelanjutan estafet pengabdian kepada bangsa dan negara.
“Setiap prajurit adalah bagian dari sejarah satuan. Jejak langkah saudara-saudara sekalian akan selalu menjadi bagian dari perjalanan Kodim 1303/Bolmong. Alih tugas dan purna tugas adalah wujud kepercayaan negara serta bentuk penghargaan atas dedikasi yang telah diberikan,” ungkapnya.
Dandim juga menekankan bahwa tradisi satuan memiliki makna lebih dari sekadar kegiatan formal. Tradisi tersebut menjadi simbol penghormatan, penguatan soliditas, serta peneguhan nilai-nilai kebersamaan yang selama ini menjadi fondasi utama dalam pelaksanaan tugas.
Acara ditutup dengan pemberian cinderamata dan ucapan selamat, diiringi suasana penuh haru dan kebanggaan. Di Aula Totabuan hari itu, bukan hanya pelepasan yang terjadi, tetapi juga penegasan bahwa pengabdian seorang prajurit tidak pernah benar-benar berakhir—ia hanya berpindah medan dan bentuk tugas.***



.
.














